Senin, 11 Mei 2009

Belum ada Capres Yang Mau Tegas Pada Tragedi Mei 98 !!



Presiden Kita

Sepuluh tahun yang lalu pada tanggal-tanggal ini terjadi serangkaian peristiwa yang sangat tragis. Dimulai dengan kerusuhan pada 13 Mei, yang beralih menjadi konflik yang membuat sebagian masyarakat membuat korban dan sebagian lain menjadi alat kekerasan, dengan atau barangkali tanpa sadar. Sedangkan otak dan pelaku kekerasan melakukannya dengan penuh perhitungan sehingga peristiwa Mei terjadi dengan presisi seperti sebuah operasi militer.

Mulai dari kerusuhan pada beberapa tempat, kita melihat perkembangan lokasi kerusuhan terjadi menurut pola geometris. Bahkan dilakukan simulasi oleh Prof. Dadan Umar Daihani dan kawan-kawan di Universitas Trisakti dimana terlihat dengan analisa sederhana bahwa pembakaran-pembakaran dan perusakan gedung itu, terjadi mengikuti suatu trayek. Dapat dibayangkan menjadi trayek truk atau bus yang sewaktu-waktu menurunkan orang untuk melakukan pembakaran dan juga kemudian melakukan provokasi kerusuhan.

Itu semuanya hanya spekulasi dan teori, tapi kenyataan adalah bahwa Jakarta hancur dalam beberapa hari. Berubah dari kota yang sibuk dan macet menjadi kota yang lengang dan sedih dan terbengkalai, seakan-akan menjadi kulit dari suatu negara yang sudah hancur. Inti dari negara itu yaitu Soeharto sudah tidak berdaya dan memang beberapa hari kemudian mengundurkan diri dari kekuasaan. Jauh diluar dugaan skenario apapun yang dibayangkan orang-orang yang mengenal kekuatan dahsyat rezim Soeharto.

Tragedi Mei sampai sekarang belum terungkap sebab dan latar belakangnya, tapi kita bisa melihat beberapa makna dari tragedi itu. Pertama bahwa, sangat cepat orang melupakan sesuatu peristiwa yang sebetulnya menyentuh setiap orang di Jakarta dan juga setiap orang Indonesia dimana pun kalau mengikuti berita. Anehnya peristiwa itu memang terkosentrasi di Jakarta sebagai suatu operasi militer yang dilakukan dengan presisi tinggi tersebut tadi. Yang kita lihat juga bahwa, sepuluh tahun kemudian masyarakat seakan-akan tidak ingin ingat peristiwa itu. Digaris bawahi “tidak ingin ingat” sebab kalau lupa itu rasanya tidak mungkin, kecuali pada waktu itu orang yang bersangkutan itu masih muda, masih kecil sehingga tidak mengerti. Tapi semua orang yang sadar akan keadaan waktu itu pasti ingat tapi tidak ingin ingat. Mungkin karena merasa sudah cukup sepuluh tahun merisaukan dan menangisi peristiwa itu, mungkin juga karena memang mereka termasuk segelintir kecil orang yang menjadi otak dan pelaku peristiwa. Mereka memang ingin dilupakan agar bisa melanjutkan kehidupan yang normal.

Itulah yang terjadi sekarang bahwa sedihnya yang lupa memang lupa tapi yang melakukannya kelihatanya tetap mempunyai peranan yang kuat dalam masyarakat. Orang-orang yang paling dicurigai atau paling diduga terlibat dalam peristiwa Mei itu sekarang masih berkeliaran dan sebagian menjadi pemimpin atau tokoh masyarakat. Bahkan dalam kaitan dengan pemilihan presiden 2009 bukan mustahil bahwa beberapa orang yang terlibat saat itu menjadi bagian dari kampanye presiden, sebagai pendukung pencari kekuasaan atau sebagai calon itu sendiri. Sebaliknya masyarakat yang harusnya ingat peristiwa itu sudah tidak ingin mengurusnya lagi.

Beberapa hari yang lalu dibuka pameran untuk mengingatkan kita pada tragedi Mei yang dengan satria dijalankan oleh aktivis-aktivis dibawah koordinasi Ester Indahyani Jusuf. Suatu pameran yang menyentuh, bermutu, historis dan akurat. Pameran mengenang tragedi tapi pamerannya sendiri mengalami nasib yang tragis yaitu hanya mendapat pengunjung sangat sedikit dan tidak dapat berkata apa-apa. Pada pameran itu kita lihat orang-orang yang menjadi korban langsung. Keluarga dari korban nyawa, korban luka. Korban materi. Mereka hanya bisa berharap, memohon, mengemis kepada pemerintah untuk perlakuan kemanusiaan. Sedangkan harusnya yang dilakukan adalah tuntutan terhadap pemerintah.

Memang masyarakat sudah tidak kuasa untuk menuntut apapun dari pemerintah. Tapi karena peristiwa itu menyebabkan jatuhnya Soeharto dan secara tidak langsung menyongsong lahirnya demokrasi, barangkali kita bisa membuat suatu ironi melawan kejahatan, suatu ironi demi kebaikan. Buah dari peristiwa Mei itu yaitu demokasi harus bisa melahirkan kepemimpinan nasional yang akan membalas kejahatan itu dengan keadilan. Apabila pemilihan Presiden 2009 itu bisa melahirkan calon-calon yang mempunyai sikap yang sederhana tapi tegas terhadap ketidak-adilan, bukan tidak mungkin bahwa akhirnya ketidak-adilan peristiwa Mei akan terungkap. Secara formal perangkat untuk mencari keadilan masih ada. Mahkamah konstitusi memberikan keputusan bahwa sejak awal tahun 2008 Kejaksaan Agung diberikan wewenang tunggal untuk menyelediki dan menyidik peristiwa itu. Jika ada kemauan politik itu bisa dilakukan.

DPR masih terbuka untuk bersikap, tanpa melihat anggota DPR yang sekarang tapi suatu DPR yang lahir dari pemilihan legislatif 2009 yang betul-betul menghasilkan wakil rakyat. Produk-produk hukum masih tersedia untuk mengangkat peristiwa Mei karena orang- orang yang dicurigai masih tersedia sebagai terdakwa atau saksi. Mereka bukan orang yang bisa berlindung dibalik kondisi kesehatan atau alasan-alasan yang lain.

Daripada kita membuang tenaga mempersoalkan calon-calon Presiden tanpa program yang jelas, atau justru dengan program yang telalu rumit, lebih baik kita fokus pada sikap moral. Kita bisa terapkan tolak ukur sederhana. Siapa diantara calon presiden 2009 mempunyai sikap yang jelas terhadap peristiwa Mei? Siapa yang bisa melahirkan gerakan sederhana untuk menuntaskannya? Tidak perlu misi visi yang terlalu dibuat-buat, hanya perlu satu kemauan. Kemauan untuk menyelesaikan tragedi Mei. Itulah yang diperlukan untuk mendapatkan keadilan. Kemauan politik untuk mencari keadilan dibalik tragedi Mei 98.

Berikan Komentar anda :

Posting Komentar

Supported

Blog Terbaik Indonesia Blog Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! free search engine website submission top optimization Find broken links on your website for free with LinkTiger.com Top Global Site Entertainment blogs TopOfBlogs Entertainment Top Blogs Entertainment Blogs Entertainment Blogs - Blog Rankings DigNow.net Blog directory Lifestyle Blogs - BlogCatalog Blog Directory Add to Technorati Favorites

  ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO